Ini alasan kenapa gombalanmu sama gebetan ga mempan

Araragi Koyomi (or other characters in Monogatari Series by NisiOisiN) once said something along this line:

Sesuatu yang kau katakan terlalu sering, meski itu tulus, akan kehilangan maknanya.

Kemudian kutemukan juga kutipan dari sebuah novel yang kubaca beberapa hari yang lalu.

“Sudahkah kukatakan bahwa aku mencintaimu?” Bisiknya.

Aku tersenyum. “Belum sejak pagi ini.”

“Sungguh tak termaafkan. Aku akan mengatakannya padamu setiap jam setiap hari.”

“Bukankah para penyair berkata, seorang nelayan yang menangkap ikan setiap kali dia melemparkan kailnya akan segera bosan memancing?”

Yes, you’re right. I like anime and I like reading fictions. Anyway, kedua kutipan tersebut memang diambil dari karya fiksi, but it does not make it less true.

In fact, kedua kutipan di atas erat kaitannya dengan hukum kelangkaan (scarcity principle) yang diperkenalkan oleh Robert Chaldini. Kalau kamu anak IPS, kamu pasti pernah mendengar tentang hukum kelangkaan karena umumnya hukum ini diterapkan pada ekonomi. Tapi pada kenyataannya, scarcity principle erat kaitannya dengan psikologi.

Dalam bidang ekonomi, para penjual kerap menggunakan ‘trik kelangkaan’ ini untuk mempengaruhi psikologi pembeli dan akhirnya mendapatkan keuntungan atau meningkatkan penjualan.Contoh yang paling mudah. Berlian. Jumlah berlian yang ada di dunia ini ternyata ada banyak sekali, namun hanya sedikit yang dipasarkan sehingga menimbulkan kesan bahwa berlian adalah barang yang langka. Karena kelangkaannya ini kemudian harga berlian menjadi sangat mahal dan prestige-nya pun naik. Dengan begitu, konsumen akan semakin menginginkan barang tersebut karena kita, manusia, pada dasarnya suka merasa menang, suka merasa lebih unggul dari orang lain, suka merasa lebih mampu dari orang lain. Sehingga berlomba-lombalah mereka yang menginginkan berlian, meski harganya sangat mahal (atau, dalam hal ini, JUSTRU karena harganya sangat mahal).

Tak hanya terbatas di situ saja. Scarcity principle juga diterapkan dalam pemasaran untuk barang-barang umum sehari-hari, dengan memberikan kesan bahwa barang yang dijual itu langka.

 “Barang ini yang warna merah tinggal satu.”

“Beli sekarang, hari Senin harga naik.”

“Hanya dijual di sini.”

Kata-kata semacam itu membatasi ke-available-an suatu barang, entah dari sisi harga atau tempat. Dengan memberi kesan bahwa barang tersebut diinginkan banyak orang sedangkan penawarannya terbatas, kita akan tertarik atau tertantang untuk membelinya. Well, pada dasarnya kita tak suka dibatasi dan akan berlomba untuk cepat-cepat mendapatkannya sebelum keduluan orang lain. Inilah yang dinamakan permainan psikologi pembeli.

Intinya, prinsip dari hukum kelangkaan ini adalah: when things are scarce, we want them. Jika sesuatu itu langka, kita menginginkannya.

Dalam psikologi secara umum pun scarcity principle tetap berlalu. Contoh sederhana. Pujian yang datang dari seorang yang ramah dan suka memuji, dibandingkan pujian dari seorang yang terkenal pendiam, lebih berkesan yang mana? Disapa guru yang baik hati dibandingkan disapa guru killer, lebih berkesan yang mana? Tentu lebih berkesan dipuji seorang yang pendiam, atau disapa guru killer.

Karena orang tersebut jarang memberikan pujian, maka setiap pujian darinya begitu bermakna. Karena orang tersebut jarang menyapa, maka sekedar sapaan darinya saja terasa istimewa.

That is the essence of scarcity principle.

Sesuatu yang terjadi terlalu sering akan kehilangan keistimewaannya, bahkan bisa membuatmu bosan. Sesuatu yang kau katakan terlalu sering, meski itu tulus, akan kehilangan maknanya. Bahkan jika kau bersikap baik dan mengistimewakan setiap orang, itu hanya berarti bahwa tidak ada yang istimewa bagimu. Karena semua berkedudukan sama.

Jadi, apa yang bisa ditarik dari sini?

Jangan terlalu mengumbar sesuatu. Begitu juga ketika mendekati gebetan. Jangan terlalu mengumbar kata manis. Aih, lama-lama diabetes, lho. No, seriously, kalau kamu terlalu bersikap manis, bisa-bisa ketulusanmu dipertanyakan. Setiap pujian yang kamu berikan padanya, kalau terlalu sering, hanya akan berlalu begitu saja tanpa makna.

Pelan-pelan sajalah. Tunjukkan lewat sikap dan buat dia terkesan dengan kelebihanmu. Tak usah buru-buru. Dan ingat…a word to live by

Kerap kali cinta tak butuh banyak kata.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

5 Hal Yang Wajib Kamu Bicarakan dengan Pasangan Sebelum Sesi Foto Prewedding

Pernah lihat foto calon mempelai yang tercantum di dalam kartu undangan pernikahan, souvenir pernikahan atau dipajang sebagai penghias ruangan di tempat resepsi pernikahan? Nah, itu adalah hasil dari foto prewedding. Biasanya berupa foto kedua mempelai berpose bersama atau terpisah, tergantung dari keputusan dan konsep dari masing-masing orang. Well, karena dalam agama tertentu mempelai pria dan wanita tak boleh nempel-nempel apalagi berpose berdekapan sebelum para saksi serempak teriak ‘sah!’.

Foto prewedding ini, meski tidak wajib ada dalam pernikahan, sudah jadi semacam bumbu pelengkap untuk wedding itu sendiri. Fotonya pun bukan asal jepret, tapi diambil oleh fotografer profesional. Mempelai pun mengenakan pakaian necis, berpose manis, di lokasi strategis, hingga hasil fotonya tampak romantis.

Nah, untuk mendapatkan hasil foto prewedding yang memuaskan, diperlukan rencana yang matang. Meski tampaknya repot ya, sudah memikirkan seabreg rencana pernikahan masih harus memikirkan prewedding. Tapi kan…ada pasangan. Di mana aku dan kamu telah menjadi kita dan mengambil keputusan pun dengan dua kepala, untuk dua jiwa. Maka, prewedding pun sebaiknya dibicarakan dengan pasangan. Lalu apa saja yang perlu dibicarakan? Simak kelima poin berikut.

Budget

Memang sengaja banget budget diposisikan nomor satu. Kenapa? Ketika sedang membicarakan pernikahan dan persiapannya, ada begitu banyak tetek-bengek yang harus direncanakan dan dipikirkan matang-matang, dan semua itu pasti tak akan terlepas dari yang namanya ‘uang’, bahkan untuk perkara remeh-temeh sekalipun. Makanya, rencana anggaran perlu dibicarakan baik-baik. Jangan sampai di belakang kaget lihat sisa saldo di buku tabungan.

Pun prinsip masing-masing orang dalam melihat esensi pernikahan berbeda-beda. Meski banyak yang menginginkan pernikahan yang mewah untuk upacara sekali seumur hidup ini, sebagian lainnya lebih nyaman dengan pernikahan sederhana dengan melibatkan hanya orang-orang terdekat saja tanpa mengurangi kesempurnaan dari pernikahan itu sendiri. Nah, sila menyelaraskan prinsip dulu dengan pasangan, lalu bicarakan budgeting dengan matang, termasuk budgeting untuk prewedding photo shoot.

Konsep

Idealnya foto prewedding menceritakan banyak hal tentang calon pengantin sebagai pasangan. Bukan sekadar dua sejoli yang berpose elok di depan kamera, tetapi mencerminkan kedalaman kasih yang kalian bagi sepanjang kisah perjalanan yang mengantarkanmu hingga ke depan pintu gerbang pernikahan ini. Nah, untuk bisa menyampaikan kisah kasih ini ke dalam bingkai, kamu perlu menentukan konsep untuk foto prewedding yang mampu mencerminkan kepribadian kalian sebagai pasangan.

Ada beberapa konsep yang lagi tren untuk foto prewedding: glamor, kasual, tradisional, tematik, dan alam terbuka. Bahkan baru-baru ini ada konsep yang ekstrim, foto prewedding di pinggir jurang. [Note: jangan dicoba kecuali dengan kelengkapan safety yang memadai.]

Lokasi

Sebelum menentukan lokasi, tentukan dulu indoor atau outdoor? Untuk lokasi indoor, photo session bisa dilakukan sekaligus di vendor penyedia jasa fotografi. Untuk lokasi outdoor, sebaiknya cari lokasi yang menawarkan nuansa tersendiri yang mendukung konsep yang kamu usung. Misalnya, konsep alam terbuka, carilah situs dengan pemandangan alam yang memukau. Sila survey lokasi di sini.

Kostum dan make-up

Salah satu kesalahan yang sering dibuat dalam foto prewedding adalah mengenakan kostum dan make-up yang terlalu mewah karena ingin tampak ‘wah’ sehingga justru terlihat ‘bikin pangling, alias mirip orang lain. Perlu diingat juga bahwa kamu tak sendirian di foto itu, you are with your soulmate. Pastikan kostum dan make-up yang kalian kenakan tampak serasi dan saling melengkapi, bukannya kontras dan berjarak. Dan sebaiknya dress yang kamu kenakan untuk foto prewedding tidak tampak lebih mewah dari dress yang akan kamu kenakan saat wedding. Save the best for the wedding.

Memilih vendor wedding photography

Cara termudah menilai pekerjaan fotografer adalah dengan menilik hasil fotonya. Fotografer professional biasanya memiliki website yang memamerkan sejumlah hasil karyanya, seperti misalnya Himago. Jelajahi saja galerinya dan temukan foto-foto hasil jepretan profesionalnya.

Untuk lebih meyakinkan diri, kamu bisa melakukan interview singkat dengan menanyakan pengalamannya, berapa poyek yang sudah ditangani, konsep apa saja yang pernah dieksekusi, dan sebagainya. Dan yang terpenting, jangan ragu untuk melakukan perbandingan. Namanya juga memilih. Kalau hanya melihat satu vendor saja, mana bisa disebut memilih. Ya, kan?

Dan di atas itu semua, ketika membicarakan hal-hal itu tadi, hargailah pendapat pasangan. Keputusan untuk menikah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Sepasang kekasih yang akhirnya memutuskan untuk menikah pastinya telah melewati banyak hal bersama dan telah siap untuk menghadapi lebih banyak hal lagi bersama-sama. Pokoknya serba bersama, karena itulah esensi dari urip bebrayan (bahasa jawa: hidup berumah tangga). Sudah tak ada lagi aku dan kamu. Hanya ada kita.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pemandangan Asri dari Puncak Gunung Lanang; Wisata Baru di Kulon Progo

Jadi ceritanya Rabu kemarin aku one day trip ke Moyudan, bolak-balik, karena emang cuma mau nganter titipan ke ponakan yang di pondok. Berangkat dari Kutoarjo jam 8 pagi. Di perbatasan Wates ada cegatan di satu sisi jalan ke arah Purworejo. Meaning…nanti aku baliknya pasti kena. Fyi, aku ga punya SIM sampai sekarang, so if I wanted to get away setidaknya aku perlu bayar tilang 50 ribu. Hahaha, bukan warga negara yang baik, jangan ditiru.
 
Tapi ada opsi lain menghindari cegatan; which is…lewat jalan lain. Aku tau satu jalur Moyudan-Purworejo yang lain; lewat Kaligesing. Tantangannya cuma 1; jalannya mirip kalau mau ke Dieng. Terakhir kali aku lewat sana, begitu sampai di kecamatan Kaligesing kepalaku puyeng macam orang mau mabok kendaraan. Padahal naik motor. Hahahaaaa…
Seperti perjalanan sebelumnya, jalur dari Moyudan ke arah barat memanjakanku dengan pemandangan alam yang asri. Beberapa menit saja keluar dari pondok di Sumberarum ke jalan utama, aku langsung disambut dengan hamparan perbukitan hijau dan area persawahan dengan burung-burung bangau di sana-sini. Pokoknya suasananya masih asri banget.
Ke barat lagi dan area semakin menanjak; dengan ladang tebu di kiri dan kanan jalan.
DSC_0499.JPG
Semakin ke barat medan semakin menantang. Bagi yang sudah terbiasa dengan tanjakan curam dan tikungan tajam sih, ini bukan apa-apa. Tapi seumur-umur saya mah tinggal di daerah datar dan lurus-lurus aja. Selurus huruf alif. [Masih keinget film Alif Lam Mim tempo hari]
Bagiku medan ini cukup menantang hingga aku perlu fokus konsentrasi ke jalan menanjak dan penuh tikungan, hingga perhatianku tersita papan nama obyek wisata yang nongkrong di tepi bukit. Terbaca di sana: Pesona Alam Sunrise Gunung Lanang.
Terlihat betul papan nama ini masih baru. Warnanya masih ngejreng. Dan sejauh yang aku ingat memang papan ini belum ada sewaktu terakhir kali aku lewat jalan ini beberapa bulan lalu.
DSC_0524.jpg
Aku tergoda mampir, tapi ragu. Sama sekali nggak ada orang yang jaga di pintu masuknya. Bahkan, tukang parkir pun nggak ada. Tapi ada pengendara lain yang juga berhenti di depanku; sepasang suami istri dan anaknya yang masih kecil. Langsung saja kutanya perihal tempat wisata baru ini. Eh, ternyata mereka juga nggak tau. Tepatnya, baru tau. Baru sekali itu ke tempat ini. Alamak. Sama aja kayak saya dong…
Yaudahlah, karena mereka tampaknya mau naik. Aku juga naik.
Akses naik difasilitasi dengan tangga kayu. Ada pintu masuk kecil terbuat dari bambu, nggak dikunci, tapi juga nggak dijaga.
Cuma naik sekitar 20 anak tangga, sudah ada bangku bambu tempat melihat pemandangan. Dari sana pemandangannya asooooyyy…mirip pemandangan dari Kali Biru, hamparan perbukitan hijau dan pedesaan di bawah langit biru. Eh, pagi itu berawan mendung ding! Hehehee~
DSC_0519.jpg
Dari sini, masih ada tangga naik lagi menuju gardu pandang pertama. Tangganya nggak banyak, kok. Nggak cukup bikin ngos-ngosan. Udah ada saung kecil, tempat berteduh dari panas atau hujan sembari pacaran. [Bagi yang punya pacar; atau pacarannya sama suami gih…]
DSC_0510.jpg
Sebenarnya masih ada lagi jalur menanjak ke atas. Tapi berhubung saya cuma mampir, jadi ya…cuma sampai di sini saja. Maaf kalo kualitas fotonya jelek. Cuma pake kamera HP.
Tapi ini tempat bakalan keren banget buat menikmati sunset/sunrise. Nggak perlu nanjak tangga terlalu tinggi pula. Recommended dah.
DSC_0507.jpg
How to get there: dari kota Jogja ke arah barat lewat Jl. Godean, udah lurus aja lempeng. Nanti kalau udah masuk daerah perbukitan, jalannya berkelok-kelok. Ikuti jalan utama dengan penunjuk arah jalur alternatif ke Purworejo. Dari tugu Jogja jaraknya sekitar 1,5 jam. Pastikan kendaraan dalam keadaan OK. Periksa rem sebelum berangkat.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Film 3; Alif Lam Mim. Kesan-kesan dari Non-penggemar film Indonesia

To start off, aku nggak membenci film Indonesia. Aku nggak anti film Indonesia. Aku nggak bermaksud melecehkan film Indonesia. If anything, aku berharap banyak pada film Indonesia. Aku menaruh harapan besar pada kualitas film karya anak bangsa. Meski harapanku ini kadang dipatahkan.

That being said, I am not exactly a fan to Indonesian movie.

Sejujurnya ini berakar dari diriku sendiri. Kekecewaanku terhadap beberapa film Indonesia berasal muasal dari kecenderunganku mengharapkan film-film yang diangkat dari buku kesukaanku bakal sebagus bukunya. Karena menurutku bukunya sangat bagus. Sangat-sangat bagusssss!

Over-expectation dari seorang penggemar buku yang kemudian berbuah kecewa karena harapan yang tidak terpenuhi, kemudian membuatku sangat jarang menonton film Indonesia.

Yep, basically aku nggak siap untuk patah hati.

Tapi baru-baru ini aku dipameri salah seorang temanku yang baru menonton film 3; Alif Lam Mim. Dari mendengar judulnya saja aku agak skeptis. Ah, film tentang agama.

Despite being a moslem I am not so fond of Islamic movie.

Tapi yang membuatku makin penasaran karena dia nggak nonton film itu pada jadwal penayangan di bioskop. Waktu itu Alif Lam Mim memang sudah nggak ditayangkan lagi di bioskop, karena film ini rilis 1 Oktober 2015 sementara temanku nonton bulan Desember 2015. Sepanjang pengetahuanku memang nggak ada film yang nongkrong sampai lebih dari 3 bulan di bioskop.

Lalu dia nonton dimana? Bajakan?

Nope. Menariknya karena dia nonton Alif Lam Mim di JAFF, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, sebuah event yang salah satu agendanya menayangkan sejumlah film karya anak bangsa. Nah, yang biasanya diputar di acara ini bukan sembarang film. Lantas muncul pertanyaan di kepalaku:

What makes this film special?

Tapi itu saja ternyata belum cukup membuatku tergoda menontonnya, hingga suatu hari aku mendapat broadcast di WhatsApp tentang acara nonton bareng film 3; ALif Lam Mim yang diselenggarakan oleh KOPFI, Komunitas Pecinta Film Indonesia.

Sungguh, nama komunitas ini terdengar asing buatku. Tapi mereka menawarkan sesuatu yang membuatku makin tergiur; versi extended film 3; Alif Lam Mim. Versi extended tentu akan mencakup beberapa bagian yang dipotong pada penayangan sebelumnya.

Setelah dapet temen nonton, langsung aja aku daftar nobar ini. Meski ternyata versi extended film ini dibatalkan karena alasan tertentu. Singkat cerita, acara nobar berlangsung pagi tadi, 24 Januari 2016, mulai pukul 10.00 WIB di studio Cinemaxx Lippo Plaza Yogyakarta. Sayangnya temenku telat! Wooooo~

Anyway, kalau diminta menjelaskan kesanku untuk film ini dalam satu kata, I’d say mind-blowing!

Film ini jauh melebihi ekspektasiku. Jelas banget film ini digarap dengan cerdas oleh Anggy Umbara.

Mengusung pencak silat seperti halnya The Raid, Anggy Umbara menampilkan adegan action yang bikin aku melongo. Belum lagi, ditambah drama manis dan heartwarming tapi juga nyelekit. Nah, khusus untuk bagian religiusnya aku salut karena film ini mengajak kita untuk kritis terhadap isu-isu yang beredar, terutama di media. To be frank, film ini menyinggung media dan pemerintah. Hahahahaaaa.

Dari segi plot sendiri film ini sudah menarik. Ber-setting di Jakarta tahun 2036, film ini dibuka dengan adegan cewek-cewek cantik berjoget ria di club malam. Kupikir, ‘what the hell!’ film agama dibuka dengan adegan seperti ini? Tapi kemudian, BOOM! Ledakan dahsyat bom!

Dari situ lah kemudian diuraikan keadaan Indonesia saat itu, dimana ideologi sudah jauh berubah. ‘Modern civilization’ katanya. Sementara agama dianggap kuno. Kaum beragama dianggap peneror. Pembuat onar. Dalang kerusuhan. Terasing. Hingga sholat pun dianggap asing. Hingga seorang yang berpakaian gamis digunjing. Hingga mereka yang terlihat melaksanakan sholat dijauhi. Bahkan masjid-masjid dihancurkan dijadikan gudang.

Kemudian satu-persatu diceritakan perjalanan tiga sahabat masa kecil; Alif, [Her]Lam dan Mim[bo]. Ketiganya bersahabat semasa kecil dan belajar ilmu bela diri bersama di sebuah perguruan pencak silat. Namun, ketiganya memiliki visi yang berbeda.

Alif yang ingin mengabdi kepada negara menumpas ketidakadilan, menjadi aparat kemananan pasukan khusus. Lam, atas kecintaannya pada tulisan dan kebenaran, menjadi seorang jurnalis yang mengejar fakta. Kemudian Mim yang bersahaja ingin mengabdikan diri pada agama dan bercita-cita mati dalam keadaan Khusnul Khotimah, menjadi pengurus pondok pesantren.

Singkatnya, Alif, pemerintah; Lam, media; Mim, agama.  Ketiga elemen yang kerap kali saling bertentangan padahal hakikatnya bersaudara.

Ketiganya memulai perjalanan dari tempat yang sama, sebuah perguruan silat. Kemudian mereka menempuh jalannya masing-masing. Pada suatu titik jalan mereka saling bersinggungan, bergesekan, beradu. Tapi pada akhirnya ketiganya berjalan beriringan.

Trying not to give any spoiler here, plotnya kompleks tapi sangat menarik diikuti.

Sebagai non-penggemar film Indonesia, aku puas banget nonton ini. Tak berlebihan kukatakan:

This is probably the best Indonesian movie I have ever seen.

Not to mention ini film religi ya.

Thanks, Anggy Umbara for making such an awesome work! Ditunggu film berikutnya!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pesan dari content writer: Jangan mau dibayar murah! Jangan mau beli artikel murah!

Aku ga layak menyebut diriku sebagai blogger. Pasalnya, meski punya blog, isinya cuma copy-an tugas mata kuliah writing beberapa tahun yang lalu, yang baru aku sadari ternyata kualitasnya buruk. Maklum lah, waktu itu aku masih belajar. Sekarang pun masih belajar, tapi bahasa Inggrisku sudah mendingan, kok. [Memuji diri sendiri]

Karena ini blog sepi tulisan, baru saja aku memutuskan untuk update blog dengan beberapa coretan yang kutemukan di folder lepi. Coretan semasa galau. Dahulu kala aku sering mencurahkan kegalauanku dalam tulisan. Hahaha.

Meski begitu, di luar dunia blogging aku masih menulis. Demi cari uang saku. Tepatnya sejak masa-masa KKN ketika beasiswaku terancam putus. Saat itu aku diperkenalkan dengan dunia content writing, menulis artikel untuk blog dan website [entah aku pun tak paham apa beda keduanya]. Job menulis pertamaku untuk blog kesehatan; menulis artikel dalam bahasa Inggris sekaligus update sendiri di blognya. Ya, aku diberi username dan password untuk blog itu.

Klien keduaku punya wesite tentang home and furniture design. Kerjaku cuma kirim 2 artikel berbahasa Inggris masing-masing 150 kata setiap hari. Yup, ringan banget menulis sependek itu. Bisa dikerjakan sambil merem. Gajian sebulan sekali, 350rb.

Klien ketigaku sebuah penyedia jasa artikel yang mempekerjakan beberapa penulis untuk membuat artikel berdasarkan kata kunci tertentu dan menjualnya kepada pemilik blog untuk meng-update isinya. On the bright side, aku bisa mencairkan honor kalau sudah mencapai 100rb, ga harus menunggu akhir bulan. Downside-nya, artikelnya dihargai sangat murah, cuma 5.000-7.000 rupiah per artikel yang panjangnya minimal 300 kata beserta deskripsi 10 gambar dengan minimal 10 kata. Nah, total 400 kata.

Well, dengan bayaran serendah itu jujur saja aku malas menulis setelah beberapa hari. Yah, setidaknya aku berkesempatan melatih bahasa Inggrisku [ga mau nyesel!].

Klien keempatku bukan pemilik blog tapi seorang penulis yang punya akun di sebuah blog travel. Blog travel ini membayar penulis yang menyumbang artikel di sana, dan aku menulis untuk penulisnya. Tapi bayarannya mendingan, 3 dollar USD per artikel 500 kata. Lumayan, terutama kalau dolar pas naik. Tapi, kualitas perlu dijaga. Revisi bukan hal biasa.

Klien kelimaku aku temukan di salah satu situs freelancer, sebuah grup penulis niche, bayarannya lebih mendingan lagi, 6 dollar USD, dengan kriteria tulisan yang lebih ketat.

Yah, begitulah lika-liku penulis bayaran di dunia maya. Kecil banget bayarannya, terutama kalau berurusan dengan klien lokal. Rata-rata penulis artikel cuma dibayar 5.000 rupiah. Seriously, sebenarnya kualitas macam apa yang diharapkan para calon pembeli artikel dengan membayar semurah itu?

Iya sih murah, tapi kualitasnya?

Dari segi penulis, jujur aku ‘aras-arasen’ [males] dan ga rela memberikan kualitas tulisan yang bagus dengan bayaran segitu.

Tapi memang entah kenapa penyedia artikel lokal kebanyakan tidak menghargai kerja otak. [Menulis itu melelahkan lho!] Penulis konten sepertiku kalau mau bayaran yang mendingan harus cari klien dari luar negeri. Mereka menghargai kerja otak dengan 3-6 dollar, yang kalau dikonversikan ke dalam rupiah sekitar 40-80 ribu untuk artikel sepanjang 500-800 kata. Dan tentunya sebagai penulis, aku lebih ‘niat’ mengerjakan tulisanku, meski hanya kerja sambilan.

Mereka pun tidak sembarang menerima artikel. Tidak cukup mentah-mentah dari penulis kemudian langsung dibayar. Ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi penulis dalam tulisannya. Ada editor yang kerjanya proof-read tulisan yang disetorkan penulis. Kemudian penulis harus bersedia merevisi tulisannya jika diperlukan.

Prosesnya memang agak panjang, tapi kualitasnya tentu beda level dengan tulisan seharga 5.000 rupiah. After all, mereka membayar mahal tentu ga mau rugi. Dan penulis, dibayar mahal tentu merasa bertanggung jawab.

Nah, baru-baru ini aku menemukan ternyata di Indonesia juga ada penyedia jasa artikel lokal yang quality control-nya udah macam penulis niche asing yang kuceritakan tadi. Namanya Kontenesia, kutemukan beberapa bulan yang lalu dari salah satu grup di Facebook yang aku ikuti. Iseng-iseng saja aku mendaftar di sana. Ada seleksi untuk masuk Kontenesia; calon pendaftar harus mengirimkan salah satu artikel yang pernah ditulis. Dan voila, aku diterima.

Sejak masuk di Kontenesia, aku sudah ga lagi menulis di tempat lain. Sudah cocok dengan Kontenesia. Sudah cocok dengan orang-orangnya. Dan, more importantly, aku ga perlu lagi mencari klien sendiri, karena  aku pemalas, dan buruk dalam hal negosiasi dengan klien. Pun, aku bisa memutuskan kapan aku bisa bekerja sesuai mood terbaik. Karena, meski aku ga mengambil pekerjaan, masih banyak teman-teman penulis lain yang bersemangat mengerjakannya.

In other words, aku bisa bekerja seenaknya sendiri kapanpun aku mau. Hahaha. [plak!]

Tapi memang harus kuakui sistem yang dipakai Kontenesia adalah yang terbaik dari beberapa penyedia jasa artikel yang aku tahu. Ga hanya menjaga kualitas tulisan artikel, tapi juga sesuai deadline. Dengan sistem yang bagus, semua berjalan baik. Klien puas. Warga Kontenesia pun riang.

Memang harga artikel di Kontenesia lumayan mahal dibanding penyedia jasa artikel lokal lainnya, but that is exactly why calon penulis dan calon pembeli harus beralih ke Kontenesia.

Kalau sudah membaca curhatan panjang lebarku ini, kamu pasti paham apa yang kumaksud. Penulis lebih terpacu memberikan tulisan berkualitas jika dihargai selayaknya. Artinya, klien akan mendapatkan isi blog yang berbobot dan menarik. Win-win solution, kan?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

The Disadvantages of Using Cellphones during Learning Hours

Recently, there is an issue that cellphones should be banned during the learning hours. This issue comes up based on consideration that the use of cellphones during the learning hours can cause some disadvantages. The most significant disadvantage is that it can disturb students’ concentration during the teaching and learning process.  Such an opinion emerges as students tend to open the social media like facebook, twitter or other features when using cellphones, which in return will distract their attention from the materials given by the teacher. Besides, when a student starts using cellphone in the classroom, it tends to disturb other students’ attention. Even if the cellphones are put on silent mode to make no possible sound comes out when being used, the fact that a student can play with his/her cellphone casually during the learning hours will persuade other students to do the same. Furthermore, using cellphones while the teacher is delivering lesson can be considered as an act of impoliteness. Regarding that education is aiming not only to teach academic matters but also moral values, it is disadvantageous to allow such an attitude to carry on in the classroom. In conclusion, regarding its disadvantages, the use of cellphones during the learning hours should be banned.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Benefits of Private Tuition

In the last five years, business of private tuition is growing promptly as parents now more aware of the importance of education for their children and they are practically trusting private tutors to help their children study. Indeed there are some benefits of having private tutors to teach your children. Firstly, private tutors can help your children to improve skills in certain subject. As each tutor focuses only in teaching one subject that they’ve really mastered, such as Mathematics, English, or Music, they may help your children to catch the lesson better as they have sufficient knowledge on the subject. Secondly, private tutors will also be helpful to help your children improve their grade as having a private tutor means that the tutor, unlike a teacher in the class, will only focus on teaching one pupil only. This condition makes it possible to the tutor to recognize the strengths and weaknesses of the pupil in certain subjects and to deal with them effectively. Another consideration of parents having private tutors teaching their children is to help them prepare for examination. In such a condition, the private tutor can help overcoming the pupil weaknesses in a certain subject so that examination won’t be a problem. Regarding those roles of private tutors, it is undeniable that having private tutors to help children study is very beneficial.

Posted in Uncategorized | Leave a comment