Film 3; Alif Lam Mim. Kesan-kesan dari Non-penggemar film Indonesia

To start off, aku nggak membenci film Indonesia. Aku nggak anti film Indonesia. Aku nggak bermaksud melecehkan film Indonesia. If anything, aku berharap banyak pada film Indonesia. Aku menaruh harapan besar pada kualitas film karya anak bangsa. Meski harapanku ini kadang dipatahkan.

That being said, I am not exactly a fan to Indonesian movie.

Sejujurnya ini berakar dari diriku sendiri. Kekecewaanku terhadap beberapa film Indonesia berasal muasal dari kecenderunganku mengharapkan film-film yang diangkat dari buku kesukaanku bakal sebagus bukunya. Karena menurutku bukunya sangat bagus. Sangat-sangat bagusssss!

Over-expectation dari seorang penggemar buku yang kemudian berbuah kecewa karena harapan yang tidak terpenuhi, kemudian membuatku sangat jarang menonton film Indonesia.

Yep, basically aku nggak siap untuk patah hati.

Tapi baru-baru ini aku dipameri salah seorang temanku yang baru menonton film 3; Alif Lam Mim. Dari mendengar judulnya saja aku agak skeptis. Ah, film tentang agama.

Despite being a moslem I am not so fond of Islamic movie.

Tapi yang membuatku makin penasaran karena dia nggak nonton film itu pada jadwal penayangan di bioskop. Waktu itu Alif Lam Mim memang sudah nggak ditayangkan lagi di bioskop, karena film ini rilis 1 Oktober 2015 sementara temanku nonton bulan Desember 2015. Sepanjang pengetahuanku memang nggak ada film yang nongkrong sampai lebih dari 3 bulan di bioskop.

Lalu dia nonton dimana? Bajakan?

Nope. Menariknya karena dia nonton Alif Lam Mim di JAFF, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, sebuah event yang salah satu agendanya menayangkan sejumlah film karya anak bangsa. Nah, yang biasanya diputar di acara ini bukan sembarang film. Lantas muncul pertanyaan di kepalaku:

What makes this film special?

Tapi itu saja ternyata belum cukup membuatku tergoda menontonnya, hingga suatu hari aku mendapat broadcast di WhatsApp tentang acara nonton bareng film 3; ALif Lam Mim yang diselenggarakan oleh KOPFI, Komunitas Pecinta Film Indonesia.

Sungguh, nama komunitas ini terdengar asing buatku. Tapi mereka menawarkan sesuatu yang membuatku makin tergiur; versi extended film 3; Alif Lam Mim. Versi extended tentu akan mencakup beberapa bagian yang dipotong pada penayangan sebelumnya.

Setelah dapet temen nonton, langsung aja aku daftar nobar ini. Meski ternyata versi extended film ini dibatalkan karena alasan tertentu. Singkat cerita, acara nobar berlangsung pagi tadi, 24 Januari 2016, mulai pukul 10.00 WIB di studio Cinemaxx Lippo Plaza Yogyakarta. Sayangnya temenku telat! Wooooo~

Anyway, kalau diminta menjelaskan kesanku untuk film ini dalam satu kata, I’d say mind-blowing!

Film ini jauh melebihi ekspektasiku. Jelas banget film ini digarap dengan cerdas oleh Anggy Umbara.

Mengusung pencak silat seperti halnya The Raid, Anggy Umbara menampilkan adegan action yang bikin aku melongo. Belum lagi, ditambah drama manis dan heartwarming tapi juga nyelekit. Nah, khusus untuk bagian religiusnya aku salut karena film ini mengajak kita untuk kritis terhadap isu-isu yang beredar, terutama di media. To be frank, film ini menyinggung media dan pemerintah. Hahahahaaaa.

Dari segi plot sendiri film ini sudah menarik. Ber-setting di Jakarta tahun 2036, film ini dibuka dengan adegan cewek-cewek cantik berjoget ria di club malam. Kupikir, ‘what the hell!’ film agama dibuka dengan adegan seperti ini? Tapi kemudian, BOOM! Ledakan dahsyat bom!

Dari situ lah kemudian diuraikan keadaan Indonesia saat itu, dimana ideologi sudah jauh berubah. ‘Modern civilization’ katanya. Sementara agama dianggap kuno. Kaum beragama dianggap peneror. Pembuat onar. Dalang kerusuhan. Terasing. Hingga sholat pun dianggap asing. Hingga seorang yang berpakaian gamis digunjing. Hingga mereka yang terlihat melaksanakan sholat dijauhi. Bahkan masjid-masjid dihancurkan dijadikan gudang.

Kemudian satu-persatu diceritakan perjalanan tiga sahabat masa kecil; Alif, [Her]Lam dan Mim[bo]. Ketiganya bersahabat semasa kecil dan belajar ilmu bela diri bersama di sebuah perguruan pencak silat. Namun, ketiganya memiliki visi yang berbeda.

Alif yang ingin mengabdi kepada negara menumpas ketidakadilan, menjadi aparat kemananan pasukan khusus. Lam, atas kecintaannya pada tulisan dan kebenaran, menjadi seorang jurnalis yang mengejar fakta. Kemudian Mim yang bersahaja ingin mengabdikan diri pada agama dan bercita-cita mati dalam keadaan Khusnul Khotimah, menjadi pengurus pondok pesantren.

Singkatnya, Alif, pemerintah; Lam, media; Mim, agama.  Ketiga elemen yang kerap kali saling bertentangan padahal hakikatnya bersaudara.

Ketiganya memulai perjalanan dari tempat yang sama, sebuah perguruan silat. Kemudian mereka menempuh jalannya masing-masing. Pada suatu titik jalan mereka saling bersinggungan, bergesekan, beradu. Tapi pada akhirnya ketiganya berjalan beriringan.

Trying not to give any spoiler here, plotnya kompleks tapi sangat menarik diikuti.

Sebagai non-penggemar film Indonesia, aku puas banget nonton ini. Tak berlebihan kukatakan:

This is probably the best Indonesian movie I have ever seen.

Not to mention ini film religi ya.

Thanks, Anggy Umbara for making such an awesome work! Ditunggu film berikutnya!

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s