Ini alasan kenapa gombalanmu sama gebetan ga mempan

Araragi Koyomi (or other characters in Monogatari Series by NisiOisiN) once said something along this line:

Sesuatu yang kau katakan terlalu sering, meski itu tulus, akan kehilangan maknanya.

Kemudian kutemukan juga kutipan dari sebuah novel yang kubaca beberapa hari yang lalu.

“Sudahkah kukatakan bahwa aku mencintaimu?” Bisiknya.

Aku tersenyum. “Belum sejak pagi ini.”

“Sungguh tak termaafkan. Aku akan mengatakannya padamu setiap jam setiap hari.”

“Bukankah para penyair berkata, seorang nelayan yang menangkap ikan setiap kali dia melemparkan kailnya akan segera bosan memancing?”

Yes, you’re right. I like anime and I like reading fictions. Anyway, kedua kutipan tersebut memang diambil dari karya fiksi, but it does not make it less true.

In fact, kedua kutipan di atas erat kaitannya dengan hukum kelangkaan (scarcity principle) yang diperkenalkan oleh Robert Chaldini. Kalau kamu anak IPS, kamu pasti pernah mendengar tentang hukum kelangkaan karena umumnya hukum ini diterapkan pada ekonomi. Tapi pada kenyataannya, scarcity principle erat kaitannya dengan psikologi.

Dalam bidang ekonomi, para penjual kerap menggunakan ‘trik kelangkaan’ ini untuk mempengaruhi psikologi pembeli dan akhirnya mendapatkan keuntungan atau meningkatkan penjualan.Contoh yang paling mudah. Berlian. Jumlah berlian yang ada di dunia ini ternyata ada banyak sekali, namun hanya sedikit yang dipasarkan sehingga menimbulkan kesan bahwa berlian adalah barang yang langka. Karena kelangkaannya ini kemudian harga berlian menjadi sangat mahal dan prestige-nya pun naik. Dengan begitu, konsumen akan semakin menginginkan barang tersebut karena kita, manusia, pada dasarnya suka merasa menang, suka merasa lebih unggul dari orang lain, suka merasa lebih mampu dari orang lain. Sehingga berlomba-lombalah mereka yang menginginkan berlian, meski harganya sangat mahal (atau, dalam hal ini, JUSTRU karena harganya sangat mahal).

Tak hanya terbatas di situ saja. Scarcity principle juga diterapkan dalam pemasaran untuk barang-barang umum sehari-hari, dengan memberikan kesan bahwa barang yang dijual itu langka.

 “Barang ini yang warna merah tinggal satu.”

“Beli sekarang, hari Senin harga naik.”

“Hanya dijual di sini.”

Kata-kata semacam itu membatasi ke-available-an suatu barang, entah dari sisi harga atau tempat. Dengan memberi kesan bahwa barang tersebut diinginkan banyak orang sedangkan penawarannya terbatas, kita akan tertarik atau tertantang untuk membelinya. Well, pada dasarnya kita tak suka dibatasi dan akan berlomba untuk cepat-cepat mendapatkannya sebelum keduluan orang lain. Inilah yang dinamakan permainan psikologi pembeli.

Intinya, prinsip dari hukum kelangkaan ini adalah: when things are scarce, we want them. Jika sesuatu itu langka, kita menginginkannya.

Dalam psikologi secara umum pun scarcity principle tetap berlalu. Contoh sederhana. Pujian yang datang dari seorang yang ramah dan suka memuji, dibandingkan pujian dari seorang yang terkenal pendiam, lebih berkesan yang mana? Disapa guru yang baik hati dibandingkan disapa guru killer, lebih berkesan yang mana? Tentu lebih berkesan dipuji seorang yang pendiam, atau disapa guru killer.

Karena orang tersebut jarang memberikan pujian, maka setiap pujian darinya begitu bermakna. Karena orang tersebut jarang menyapa, maka sekedar sapaan darinya saja terasa istimewa.

That is the essence of scarcity principle.

Sesuatu yang terjadi terlalu sering akan kehilangan keistimewaannya, bahkan bisa membuatmu bosan. Sesuatu yang kau katakan terlalu sering, meski itu tulus, akan kehilangan maknanya. Bahkan jika kau bersikap baik dan mengistimewakan setiap orang, itu hanya berarti bahwa tidak ada yang istimewa bagimu. Karena semua berkedudukan sama.

Jadi, apa yang bisa ditarik dari sini?

Jangan terlalu mengumbar sesuatu. Begitu juga ketika mendekati gebetan. Jangan terlalu mengumbar kata manis. Aih, lama-lama diabetes, lho. No, seriously, kalau kamu terlalu bersikap manis, bisa-bisa ketulusanmu dipertanyakan. Setiap pujian yang kamu berikan padanya, kalau terlalu sering, hanya akan berlalu begitu saja tanpa makna.

Pelan-pelan sajalah. Tunjukkan lewat sikap dan buat dia terkesan dengan kelebihanmu. Tak usah buru-buru. Dan ingat…a word to live by

Kerap kali cinta tak butuh banyak kata.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s